Jumat, 29 Maret 2013


Intelektual Sejati
Oleh : Drs. Halim Mansyur Siregar

            Siapapun kita tentu sepakat jika predikat kelompok intelektual sesungguhnya melekat pada sosok-sosok ibu dan bapak guru. Selaku penyandang gelar yang cukup terhormat itu maka sudah selayaknya pula para guru bersikap dan berperilaku serta menjalankan fungsi yang mencerminkan keintelektualan. Dengan kata lain, para guru merupakan sumber pengetahuan sekaligus menjadi figur panutan yang digugu dan ditiru oleh murid-murid mereka.
            Sebagai pengajar (sumber ilmu), sebenarnya setiap guru masih mempunyai kewajiban untuk terus meningkatkan wawasan keilmuan yang telah mereka dapatkan melalui pendidikan maupun pengalaman di lapangan. Dan selaku pendidik (panutan), gurupun harus senantiasa berupaya mengajak, membimbing dan mendorong murid-muridnya ke arah yang sama. Di sinilah kegemaran  membaca dan menulis (menyampaikan  gagasan, pengetahuan, pengalaman dan sebagainya dengan menggunakan bahasa tulisan) mengambil peran.
            Betapa pentingnya peranan kegemaran membaca, terlebih kebiasaan menulis tadi sehingga bisa dikategorikan merupakan budayanya kaum intelektual. Aktifitas baca-tulis dianggap mewakili kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian hari semakin tinggi. Artinya, tingkat intelektualitas seseorang dapat dilihat dari seberapa gemar ia membaca dan seberapa sering pula ia membuat tulisan, terutama jika tulisan-tulisannya kemudian juga diterbitkan oleh media massa berupa koran, majalah dan sebagainya.
            Wajar-wajar saja pemikiran di atas. Logikanya, sejak seseorang (di masa balita) mempunyai kemampuan bicara, tentulah ia mampu mengutarakan dan mengungkapkan   keinginan, pengetahuan atau pengalaman dan hal-hal lain yang terjadi pada dirinya dengan bertutur kata secara lisan. Sementara memaparkan melalui tulisan barangkali baru dipelajari setelah duduk di bangku sekolah dasar nanti untuk selanjutnya akan terus diasah pada jenjang-jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
            Di samping itu, tentunya penulis menempati posisi yang lebih tinggi daripada pembaca. Penulis adalah seumpama guru yang mengajari (memberi informasi), sedangkan pembaca laksana para siswa yang menyerap informasi dimaksud. Baik informasi mengenai kejadian-kejadian tertentu, penemuan-penemuan teknologi baru, gagasan-gagasan penyelesaian masalah yang nyaris menemui jalan buntu maupun hal-hal lain yang memang dirasa perlu.
            Pendek kata,  menulis adalah suatu perbuatan mulia. Tentu saja apabila tulisan yang dihasilkan berguna  untuk kebaikan masyarakat (pembaca), terutama dalam rangka  menambah khazanah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun manfaat-manfaat positif lainnya yang berfaedah  bagi umat manusia.
            Yang jelas, aktifitas menulis akan memberikan dampak yang cukup signifikan kepada berbagai kalangan. Golongan  pembaca semakin luas wawasannya. Media massa ikut berkembang atas tulisan yang kita sumbang. Anak-anak didik tidak hanya berkutat pada buku-buku pelajaran yang terkadang   kaku dan kering kerontang. Penulisnya pun tak jarang bisa memperoleh uang jika tulisannya dimuat (diterbitkan) pada rubrik atau di media massa yang memberlakukan ketentuan demikian.
            Semoga uraian dalam tulisan ini menggugah hati komunitas guru selaku pemangku profesi yang mengaku dan diakui sebagai kaum intelektual untuk ikut berpartisipasi meramaikan dunia kepenulisan. Semakin berminat menulis dan semakin produktif menghasilkan tulisan berarti kita memang intelektual sejati.(*) 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar